Kolumnis Bret Stephens memicu kontroversi dengan mengkritik National Book Awards sebagai 'checklist DEI,' membangkitkan pertanyaan mendalam tentang gatekeeping dalam sastra.
Ada sesuatu yang menggugah hati ketika kita membaca sebuah kritik yang berapi-api, namun ada yang terasa tidak seimbang. Beberapa hari lalu, kolumnis Bret Stephens menulis esai opini di The New York Times yang memicu reaksi tajam dari komunitas literatur. Dalam tulisannya, Stephens merujuk kepada National Book Awards—salah satu penghargaan sastra paling prestisius di Amerika—sebagai "literary world's DEI checklist."
Pernyataan ini tidak lahir dari kekosongan. Ia juga mengandung implikasi yang menyakitkan: bahwa karya-karya yang meraih penghargaan bergengsi ini, bukan semata-mata karena keunggulan literarnya, melainkan sebagai bagian dari suatu kompromi identitas.
Gatekeeping dalam Bentuk Baru
Electric Literature, platform yang berdedikasi untuk sastra kontemporer dan suara-suara beragam dalam dunia buku, merespons dengan kritik yang tajam. Mereka tidak sekadar menolak klaim Stephens, tetapi mengamati sesuatu yang lebih fundamental: kolumnis ini seolah-olah marah kepada penulis-penulis terbaik yang tidak pernah ia baca.
Selain menyimak ulasan ini, tak sedikit pembaca yang menyempatkan diri membuka hiburan online seperti Banjir69 App di waktu senggang.
Ini adalah inti dari debat yang sering terulang dalam ekosistem sastra modern. Ketika seseorang yang memiliki platform besar menggunakan suaranya untuk meragukan integritas suatu penghargaan, ia sebenarnya sedang mempertahankan visi sempit tentang "merit" dan "keunggulan sastra."
Siapa yang Mendefinisikan Keunggulan?
Pertanyaan fundamental yang perlu kita tanyakan adalah: siapa yang berhak mendefinisikan keunggulan dalam sastra? Apakah keunggulan itu objektif dan universal, ataukah selama ini kita telah hidup dalam dunia sastra yang didominasi oleh satu perspektif saja?
National Book Awards telah beroperasi selama puluhan tahun, dan evolusinya dalam mengakui keragaman suara bukanlah "kompromi kualitas"—melainkan perluasan dari apa yang benar-benar dianggap layak dibaca dan dirayakan. Debat ini, pada akhirnya, adalah cerminan dari ketegangan yang lebih besar: bagaimana dunia sastra—sebuah ranah yang seharusnya membuka pintu pada semua perspektif manusia—menjadi medan pertempuran ideologi.
Untuk mereka yang peduli tentang masa depan sastra yang inklusif dan hidup, tanggapan Electric Literature adalah pengingat penting. Sastra terbaik tidak pernah diciptakan dalam ruang yang steril dan monolit. Ia lahir dari beragam pengalaman, kepercayaan, dan suara yang berani bercerita.


