LitHub memuat 'Ode to a Leaf Blower', puisi baru Jill Bialosky yang mengubah rutinitas bersih-bersih halaman jadi renungan tentang kefanaan.
Ada jenis puisi yang lahir bukan dari peristiwa besar, melainkan dari pekerjaan rumah yang paling remeh: menyapu halaman belakang. Itulah yang dilakukan Jill Bialosky dalam puisi terbarunya, "Ode to a Leaf Blower", yang dimuat LitHub. Dari judulnya saja sudah terasa jenaka sekaligus ganjil—sebuah ode, bentuk puisi yang biasanya dipakai untuk memuji hal-hal agung, kini diarahkan ke alat peniup daun yang berisik dan sangat domestik.
Bialosky membuka puisinya dengan gambaran halaman rumah yang berantakan: daun-daun kusut terjerat di ranting-ranting lunak tanaman tahunan yang masih bertahan hidup, sementara pepohonan menjulang lebih dari dua puluh meter di atasnya, merebut cahaya matahari sekaligus perlahan melepaskan bagian dirinya yang telah mati. Halaman itu digambarkan sebagai "medan perang"—sebuah pilihan diksi yang langsung menaikkan tensi dari sekadar kegiatan berkebun menjadi sesuatu yang lebih besar.
Dari kerja domestik menuju kontemplasi
Setelah membangun suasana itu, penyair memasukkan dirinya sendiri ke dalam adegan: ia "berpakaian lengkap dengan jeans", bersiap turun tangan membereskan kekacauan alam di halamannya. Gerakan sederhana ini—mengenakan pakaian kerja sebelum menghadapi tumpukan daun—menjadi pintu masuk yang khas Bialosky: ia dikenal lewat kumpulan puisi dan memoar yang kerap menyelami kehilangan dan kefanaan lewat detail-detail keseharian yang tampak biasa.
Di sela membaca, sebagian orang juga mengisi waktu luang lewat aplikasi hiburan daring seperti Banjir69 App.
"Daun-daun kusut & berjalin di ranting-ranting lunak tanaman tahunan yang masih bertahan hidup, halaman kami jadi medan perang pepohonan menjulang setidaknya dua puluh meter, merebut cahaya matahari, & perlahan melepaskan yang mati. Aku berpakaian lengkap dengan jeans,"
Larik-larik itu memang terpotong di sini, namun arah yang dibangunnya sudah cukup jelas: alat peniup daun—benda modern yang biasanya hanya dianggap pengganggu ketenangan pagi—diposisikan berhadapan dengan siklus alami gugurnya daun dan matinya bagian-bagian tumbuhan. Ada ketegangan halus antara upaya manusia untuk merapikan dan menguasai alam, dengan proses alami yang terus berjalan tanpa peduli pada kerapian.
Yang menarik dari puisi semacam ini adalah caranya menolak membedakan antara bahan puisi yang "layak" dan yang "tidak layak". Sebuah alat berisik yang biasa dipakai tukang kebun bisa saja menjadi kendaraan untuk bicara soal usia, kematian, atau upaya manusia menahan kekacauan yang sebenarnya tak terhindarkan. Pembaca yang mengikuti karya-karya Bialosky sebelumnya kemungkinan akan mengenali pola ini: mengangkat objek sehari-hari untuk menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam.
Bagi peminat puisi kontemporer Amerika, "Ode to a Leaf Blower" layak disimak utuh di LitHub. Puisi pendek semacam ini sering kali menyimpan kejutan di baris-baris akhirnya—dan cuplikan yang beredar baru memperlihatkan gerbang masuknya saja.